Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
إِنَّ مَنْ أَحَبَّ إنْسَانًا لِكَوْنِهِ يُعْطِيه فَمَا أَحَبّ إلَّا الْعَطَاءَ وَمَنْ قَالَ : إنَّهُ يُحِبُّ مَنْ يُعْطِيه لِلَّهِ فَهَذَا كَذِبٌ وَمُحَالٌ وَزُورٌ مِنْ الْقَوْلِ وَكَذَلِكَ مَنْ أَحَبَّ إنْسَانًا لِكَوْنِهِ يَنْصُرُهُ إنَّمَا أَحَبّ النَّصْرَ لَا النَّاصِرَ . وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ اتِّبَاعِ مَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ فَإِنَّهُ لَمْ يُحِبّ فِي الْحَقِيقَةِ إلَّا مَا يَصِلُ إلَيْهِ مِنْ جَلْبِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ فَهُوَ إنَّمَا أَحَبَّ تِلْكَ الْمَنْفَعَةَ وَدَفْعَ الْمَضَرَّةِ وَإِنَّمَا أَحَبّ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إلَى مَحْبُوبِهِ وَلَيْسَ هَذَا حُبًّا لِلَّهِ وَلَا لِذَاتِ الْمَحْبُوبِ . وَعَلَى هَذَا تَجْرِي عَامَّةُ مَحَبَّةِ الْخَلْقِ بَعْضِهِمْ مَعَ بَعْضٍ وَهَذَا لَا يُثَابُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يَنْفَعُهُمْ بَلْ رُبَّمَا أَدَّى ذَلِكَ إلَى النِّفَاقِ وَالْمُدَاهَنَةِ فَكَانُوا فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْأَخِلَّاءِ الَّذِينَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ عَدُوٌّ إلَّا الْمُتَّقِينَ . وَإِنَّمَا يَنْفَعُهُمْ فِي الْآخِرَةِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَلِلَّهِ وَحْدَهُ
“Orang yang mencintai manusia karena dia telah memberikan sesuatu kepadanya, sesungguhnya dia tidak cinta kecuali hanya kepada pemberian tersebut. Orang yang berkata, “Sesungguhnya dia cinta orang yang memberinya karena Allah”, maka ucapan ini merupakan dusta dan omong kosong. Demikianpula, orang yang mencintai manusia karena ia telah menolongnya, sesungguhnya dia senang pada pertolongannya bukan si penolong.
Seluruh hal ini merupakan salah satu bentuk tindakan mengikuti hawa nafsu, karena pada hakekatnya dia tidak cinta kecuali terhadap keuntungan yang diperolehnya, baik itu manfaat atau terhindarkan dari bahaya. Orang ini hanya cinta pada manfaat dan bahaya yang terhindarkan darinya, dia mencintai manusia karena statusnya sebagai perantara untuk memperoleh apa yang disukainya. Hal ini bukanlah kecintaan karena Allah, tidakpula kepada orang yang dia akui telah dicintainya.
Di atas hal inilah, kecintaan makhluk kepada makhluk lainnya berjalan. Kecintaan ini, pemiliknya tidak akan memperoleh pahala di akhirat, tidak pula bermanfaat bagi mereka. Bahkan, terkadang kecintaan ini justru mengantarkan pemiliknya kepada kemunafikan dan mudahanah[1]. Dengan demikian, mereka adalah golongan yang menjadi teman akrab di dunia, namun malah menjadi musuh satu sama lain di akhirat kelak. Berbeda halnya dengan mereka yang bertakwa, kecintaan di jalan Allah dan karena Allah akan bermanfaat bagi mereka (di dunia dan di akhirat).”[2]
[1] Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari 10/454 mengatakan,
المداهنة ترك الدين لصلاح الدنيا
”Al Mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan duniawi.”
Di tempat lain beliau mengatakan,
فسرها العلماء بأنها معاشرة الفاسق وإظهار الرضا بما هو فيه من غير إنكار عليه
”Para ulama mendefinisikan mudahanah seperti bergaul dengan orang fasik dengan menampakkan keridlaan terhadap kefasikannya tanpa adanya pengingkaran” (Fathul Baari 10/528).
[2] Al Fatawa 1/609-610.
Related posts:













Nice advice. Jazaakallah
Wa jazakumullahu khairan, akhil karim.