Peranan Seorang Bapak di Tengah Keluarga
oleh: Hidayatullah binti Ahmad
Apa peranan seorang bapak di tengah keluarga? Bila pertanyaan ini dilontarkan kepada seorang pedagang sederhana, ia menjawab dengan sederhana, “Seorang bapak harus ada bersama keluarganya.”
Jawaban ini sederhana karena kesederhanaan dan rendahnya pendidikan sang pedagang. Ia tidak mampu membatasi peranannya dengan jelas dan kewajiban-kewajiban tertentu sebagai seorang bapak di tengah keluarganya meskipun dia telah melewati usia 22 tahun sebagai bapak dari tiga anak.
Walaupun demikian, sebenarnya jawaban ini mencakup banyak makna. Seorang bapak hadir di tengah-tengah keluarganya, melaksanakan kewajiban dan peranannya. Akan tetapi, sangat disayangkan, sebagian besar bapak zaman sekarang ini jarang berada di rumah karena terlalu sibuk dengan kegiatan di luar rumah.
Hasil penelitian membuktikan bahwa di antara ciri-ciri anak yang memiliki bapak yang jarang berada di rumah adalah mereka yang sulit beradaptasi dengan dirinya sendiri dan dengan kehidupan secara umum. Akhirnya, mereka tampak nakal atau sangat pasif dan di sekolah, biasanya mereka lambat dalam menerima pelajaran. Semuanya itu terjadi karena mereka tidak mendapatkan kepuasan atas kebutuhan mereka secara langsung dan tidak ada figur yang memberikan solusi tepat dan cepat terhadap permasalahan mereka dengan teman-temannya.
Meskipun penelitian sosial dan kejiwaan sarat kemungkinan, ada satu hal yang pasti, yaitu anak sangat membutuhkan keberadaan bapak di sampingnya secara jasad dan maknawi. Bila seorang bapak benar-benar hadir di tengah keluarganya, kehadirannya ini bisa memberikan ketenangan jiwa bagi anak dan mampu meberikan kekuatan, nilai-nilai, pengarahan, dan keinginan kuat untuk pembentukan jati diri anak sampai ia beranjak dewasa, khususnya bagi anak laki-laki.[1]
Menurut ilmu pendidikan anak, bulan-bulan pertama usianya membentuk dua lingkungan yang berbeda. Pertama, lingkungan yang terdiri atas orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang, yang memberikan perasaan tenang dan cinta. Kedua, lingkungan yang terdiri atas orang-orang yang memberikan kekuatan, keamanan, dan kekuasaan. Dengan kedua lingkungan itu, anak akan tumbuh normal dan sehat kejiwaannya.
Kehadiran bapak di tengah anak-anaknya dapat melambangkan adanya wewenang, tanggung jawab, keamanan, dan ketenangan keluarga. Tentunya semua ini melengkapi peranan ibu yang penuh kasih sebagai pendidik, pengasuh, dan penasihat.[2]
Bersama dengan bekerjanya seorang ibu di luar rumah, berubah pula perspektif yang berlaku selama ini tentang seorang bapak, yaitu sebagai donatur (tetap) satu-satunya untuk keluarga. Posisi seorang bapak sebagai kepala rumah tangga juga mulai mengalami perubahan sesuai dengan jumlah pemasukan yang ia berikan untuk kebutuhan keluarga dengan perbandingan jumlah pemasukan yang diberikan seorang ibu yang bekerja. Karena itu, wewenang dalam keluarga mulai dipegang oleh siapa yang lebih banyak memberikan pemasukan untuk keluarga. Karena itu pula banyak bapak yang bekerja lembur dan mati-matian demi menghasilkan uang yang banyak, karena menurut perspektif mereka, mereka akan lebih berarti di mata anggota keluarganya bila pemasukan mereka untuk keluarga lebih banyak.
Menurut ahli pendidikan, di antara faktor-faktor keterpengaruhan anak oleh bapaknya yaitu sikap dan ekspresi seorang bapak ketika memasuki rumah. Hal ini sangat memberikan arti bagi anak-anaknya karena sikap dan ekspresi tersebut merupakan gambaran di luar rumah, apakah kehidupan di luar rumah itu menyenangkan atau membebaninya. Para ahli pendidikan mengatakan bahwa sikap dan ekspresi bapak ketika sampai di rumah memberikan pengaruh terhadap jalan kehidupan anaknya, sebagaimana ekspresi seorang ibu yang tampak bahagia dengan pekerjaannya di dalam rumah sambil bernyanyi, maka anak-anaknya merasa bahwa pekerjaan tersebut menyenangkan dan akhirnya anak-anak juga senang melakukan perkejaan tersebut.
Begitu juga kata-kata yang digunakan seorang bapak untuk mengekspresikan suatu aktivitas sehari-harinya dapat memberikan pengaruh besar kepada anaknya dalam pandangannya tentang kehidupan dan pekerjaan. Seorang anak yang melihat bapaknya kuat, tekun, dan ulet maka anak itu akan mampu menghadapi tantangan pekerjaan dan kehidupannya dan ia akan merasa aman. Seorang anak menginginkan seorang bapak yang memiliki kemampuan, bertangung jawab, mampu memegang kendali dirinya, penyayang, tegas, dan adil. Seorang bapak seperti inilah yang akan dipatuhi dan ditaati perintahnya.
Dari percakapan sederhana sehari-hari antara anak dan bapaknya, si anak akan mendapatkan informasi tentang teknologi, ekonomi, dan politik. Anak merasa bahwa bapaknya menghargainya maka tumbuhlah kepercayaan diri pada jiwa si anak. Pertukaran informasi antara bapak dan anak seperti ini mudah terjadi setiap hari tanpa terencana. Contohnya ketika anak menyambut bapaknya pulang dari tempat kerjanya dan respon bapak ketika disambut dapat memberikan kepada anak-anak norma-norma tertentu dan pelajaran-pelajaran kesosialan (tata karma).[3]
Para peneliti menemukan bahwa seorang bapak juga berperan dalam memberikan dukungan terhadap perbedaan jenis kelamin anak. Contohnya seorang bapak mendukung anak perempuannya untuk bertingkah laku sopan, lemah lembut, dan tampak feminin, sedangkan kepada anak laki-laki, seorang bapak mendukungnya agar mandiri dan bersikap maskulin.[4]
Anak membutuhkan seorang bapak sebagaimana ia membutuhkan seorang ibu, tetapi kebutuhan dalam bentuk yang lain, yaitu kebutuhan moril dan kejiwaan lebih dominan daripada kebutuhan kelemahlembutan dan kasih sayang. Seorang anak pada masa perkembangan, jiwa dan emosinya membutuhkan contoh dan teladan dari bapak dan ibunya, sebagaimana seekor burung membutuhkan kedua sayapnya ketika terbang. Bila salah satu sayapnya melemah atau cacat atau benar-benar terputus, seekor burung akan mengalami ketidakseimbangan dan kecepatan terbangnya berkurang. Ia bahkan tidak mampu melakukan beberapa kegiatan. Begitu juga seorang anak, ia membutuhkan seorang bapak dan ibu dalam frekuensi yang seimbang, tetapi dalam metode dan kapasitas yang berbeda. Setiap bapak dan ibu memiliki peranan dan fungsi yang berbeda. Seorang ibu tidak bisa menggantikan posisi seorang bapak ketika ia tidak ada, bahkan sering kita temui anak-anak yang ditinggal bapaknya bepergian dalam waktu yang panjang maka anak itu akan mencari seorang laki-laki di sekitarnya, baik dari keluarganya atau orang lain yang ia kenal, atau orang di sekolahnya untuk menjalin hubungan dekat dengannya dan memosisikannya sebagai seorang bapak.[5]
Sebenarnya pelaksanaan peranan bapak dalam kehidupan anak memberikan pengaruh pada kehidupan bermasyarakat dan tata krama sosial bermasyarakat. Agar lebih bermanfaat bagi ibu dan anak, hendaknya seorang bapak memiliki peranan aktif dalam pengaruh dan pendidikan, yang dengan sendirinya bisa meningkatkan semangat moral seorang ibu di saat ia membutuhkan dukungan dan pengayoman seorang suami.
Ada banyak suami di beberapa komunitas masyarakat belum terbiasa turut berperan aktif dalam mengasuh anak. Mereka kebanyakan tidak memiliki teladan yang patut dicontoh dalam hal ini. Mereka juga tidak memiliki contoh atau metode yang dapat dijadikan pegangan dalam pengasuhan karena dalam ralitas pengasuhan, pegangan mereka terbatas pada pengalaman orang-orang sebelumnya.
Belakangan ini kita temui, beberapa bapak, baik di Timur maupun di Barat, turut berperan aktif dalam pendidikan anak sejak kelahirannya. Hal ini terlihat dalam pertambahan persentase bapak yang hadir saat proses kelahiran anak mereka sehingga ketidakhadiran seorang bapak saat istrinya melahirkan melambangkan kekurangpeduliannya. Dengan demikian, seorang bapak merasa sangat berarti dalam berbagai urusan atau kebutuhan anak setelah seorang ibu melahirkan.
Keadaan ini beragam sesuai dengan kondisi para suami. Di antara mereka ada yang turut beperan aktif dalam melaksanakan tanggung jawab pendidikan dan memosisikan pendidikan anak sebagai prioritasnya. Baginya, pengasuhan dan pendidikan anak merupakan salah satu kewajiban dalam kehidupan. Di antara mereka ada yang sama sekali tidak turut berperan dalam pengasuhan dan pendidikan anak kecuali sebagai donatur (penyandang dana). Ia beranggapan bahwa peranannya dalam keluarga hanyalah sebagai orang yang memenuhi kebutuhan materi. Sungguh sangat disayangkan, banyak suami bersikap seperti ini karena beberapa faktor, di antaranya karena ketidakmengertian mereka tentang hakikat peranan seorang bapak yang sebenarnya, tidak terbiasa melaksanakan tanggung jawab tersebut, dan tidak adanya teladan yang dapat dijadikan contoh, ditambah lagi tidak adanya kedamaian antara suami dan istrinya membuat suami enggan berada di tengah-tengah keluarganya.[6]
Pengalaman seorang laki-laki dengan orang tuanya, khususnya dengan bapaknya, memberikan pengaruh yang sangat penting dalam perilakunya di masa depan ketika ia menjadi seorang bapak. Karena itu, seorang bapak yang berbuat tidak baik dalam berinteraksi dengan anak-anaknya, biasanya ketika kecil ia diperlakukan tidak baik juga oleh bapaknya. Jadi, sangat mungkin bila sikap dan perilaku dalam mendidik menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagaimana seorang murid mengikuti gurunya secara sadar atau tidak sadar, namun ilmu pengetahuan dan kesadaran mampu memberikan perbaikan terhadap sikap dan perilaku tersebut.[7]
Berangkat dari sinilah pentingya kita mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab kelalaian seorang bapak dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.
Ditulis kembali dari Mausu’atut Tarbiyatil ‘Amaliah lith Thifl, edisi terjemahan Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim, penerbit Fikr.
[1] Kaifa Zhaharatil Ubuwwah (Bagaimana Munculnya Sifat Kebapakan), majalah Waladiy hlm.60.
[2] Al Islam wa Daurul Ab (Islam dan Peranan Bapak), internet: Waladiy online.
[3] Al Ubuwwah Kanzun Laa Tafna Durusuhu (Sifat Kebapakan: Pembahasan yang Tidak Akan Pernah Tntas), ineternet: Waladiy online.
[4]Al Umumatu: Numuwul ‘Alaqati Bainath Thifli wal Ummi (Naluri Keibuan: Mengembangkan Hubungan antara Anak dan Ibu) hlm. 225-dengan penyesuaian.
[5] Abi fi Qalbi Jurhun min Safarika (Ayah, Ada Luka di Hatiku karena Kepergianmu), internet: islam online-dengan penyesuaian.
[6] Rahbatul Ummahati Dauman Taghyiru fi Kulli Ittijah (Hasrat Ibu Selalu Ingin Mengubah Segala Hal). Internet: islam online.
[7] Al Umumatu: Numuwul ‘Alaqati Bainath Thifli wal Ummi (Naluri Keibuan: Mengembangkan Hubungan antara Anak dan Ibu) hlm. 281.
No related posts.













apa yang ada di postingan ini benar adanya, saya setuju dengan anda.
akh, tulisan-tulisannya sebagian ada yang salah-salah. dan link ke footnote-nya gak pas, malah nge-link masuk ke wp-admin.
-sekedar kritik-
syukron masukannya.tapi mengenai footnote, ana kurang begitu paham cara merubahnya, karena ana sekedar copas aja dari word