Pada kesempatan ini, pembahasan fikih akan memaparkan penjelasan seputar air dengan berbagai macamnya. Kami sajikan secara ringkas kepada anda. Silahkan menyimak!
Air terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu air yang suci lagi menyucikan, air suci namun tidak bisa menyucikan, dan air najis.
1. Air Suci lagi Menyucikan (الماء الطهور)
الماء الطهور adalah air yang secara substansial suci dan dapat digunakan untuk menyucikan berbagai jenis hadats dan najis, baik dengan cara berwudhu atau mandi. Air jenis ini mencakup berbagai jenis air sebagaimana disebutkan berikut,
a. Air hujan
Allah ta’ala berfirman,
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا (٤٨)
“Dan Kami turunkan dari langit air yang thahur (suci lagi menyucikan)” (Al-Furqan: 48).
Allah ta’ala berfirman,
وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ (١١)
“Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu” (Al-Anfaal: 11).
b. Salju, embun, dan segala sesuatu yang asalnya adalah air
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada rasulullah mengenai bacaan yang diucapkan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara takbiratul ihram dan bacaan al-Fatihah pada raka’at pertama (do’a iftitah). Maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Saya mengucapkan,
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
“Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kesalahan dan dosa, sebagaimana Engkau menjauhkan jarak timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahan dan dosa, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku dengan salju dan embun.”[1]
c. Air laut
Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ اْلبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Seorang pria mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, Wahai rasulullah, kami pernah berlayar dan membawa sedikit air tawar. Apabila kami berwudhu dengan air tersebut, maka kami akan kehausan (karena persediaannya akan habis). Apakah boleh bai kami untuk berwudhu dengan menggunakan air laut? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Air laut itu airnya suci lagi menyucikan dan bangkai yang terdapat di dalamnya halal untuk dimakan.”[2]
d. Air Zamzam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta untuk dibawakan air zamzam, kemudian beliau meminum dan berwudhu dengannya.[3]
e. Air suci yang telah berubah rasa dan warna dikarenakan telah lama dibiarkan dalam suatu tempat atau telah bercampur dengan sesuatu yang suci.
Air tersebut tetap dihukumi suci selama air itu masih bisa dikategorikan sebagai air, walaupun salah satu karakternya (bau, rasa, dan warnanya) berubah.
Termasuk di dalam kategori ini adalah air yang disimpan dalam wadah kulit, tembaga, dan semisalnya.
Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha mengatakan,
دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَنَحْنُ نَغْسِلُ ابْنَتَهُ فَقَالَ « اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ ، وَاجْعَلْنَ فِى الآخِرَةِ كَافُورًا
“Rasulullah menemui kami pada saat kami memandikan jenazah putri beliau (Zainab). Beliau berkata kepada kami, “Mandikanlah dia sebanyak tiga kali, lima kali atau lebih dari itu dengan air yang dicampur dengan daun bidara. Dan pada siraman terakhir gunakanlah air yang dicampur dengan kapur barus.”[4]
Ummu Hani’ radhiallahu ‘anha juga meriwayatkan bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi wajib dengan Maimunah di satu wadah yang di dalamnya masih terdapat sisa adonan.[5]
Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
وكل ماء خالطه شئ طاهر مباح فظهر فيه لونه وريحه وطعمه الا أنه لم يزل عنه اسم الماء فالوضوء به جائز والغسل به للجنابة جائز
“Setiap air yang tercampur dengan sesuatu yang suci, sehingga merubah karakternya, (baik itu) warna, bau, dan rasa, selama masih dapat dikategorikan sebagai air, maka boleh menggunakan air tersebut untuk berwudhu dan mandi wajib.”[6]
Adapun dalil bolehnya berwudhu dengan air yang tersimpan dalam wadah kulit dan tembaga adalah hadits-hadits berikut
Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu berkata,
أَتَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِى تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ فَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِهِ وَأَدْبَرَ ، وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ
“Pada suatu ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi kami, kemudian kami membawakan air untuk beliau dalam sebuah bejana tembaga. Beliau lalu berwudhu dengan air tersebut. Beliau membasuh wajah sebanyak tiga kali; tangan sebanyak dua kali; mengusap kepala, ke arah depan kemudian ke belakang; kemudian membasuh kedua kakinya.”[7]
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,
إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ تَبِعْتُهُ أَنَا وَغُلاَمٌ مِنَّا مَعَنَا إِدَاوَةٌ مِنْ مَاءٍ
“Apabila nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk menunaikan hajat, maka saya dan salah seorang budak laki-laki mengikutinya sambil membawakan air untuk beliau dalam sebuah ember yang terbuat dari kulit.”[8]
f. Air yang tercampur dengan najis, namun tidak merubah rasa, warna, dan baunya.
Abu Sa’id al Khudri radhiallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّهُ يُسْتَقَى لَكَ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِىَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا لُحُومُ الْكِلاَبِ وَالْمَحَايِضُ وَعَذِرُ النَّاسِ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ »
“Saya mendengar seorang berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesunguhnya air yang diambil untuk anda itu berasal dari sumur Budha’ah, sebuah sumur yang dahulu orang-orang melempar daging anjing, pembalut wanita, dan kotoran manusia ke dalamnya. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya air itu suci dan tidak ada sesuatu apapun yang bisa menajisinya.”[9]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ
“Apabila air telah mencapai dua qullah[10], maka tidaklah membawa najis.”[11]
Imam Asy Syaukani rahimahullah mengatakan,
وأما حديث القلتين فغاية ما فيه أن ما بلغ مقدار القلتين لا يحمل الخبث فكان هذا المقدار لا يؤثر فيه الخبث في غالب الحالات فإن تغير بعض أوصافه كان نجسا بالإجماع الثابت من طرق متعددة…. وأما ما كان دون القلتين فلم يقل الشارع إنه يحمل الخبث قطعا وبتا بل مفهوم حديث القلتين يدل على أن ما دونهما قد يحمل الخبث وقد لا يحمله فإذا حمله فلا يكون ذلك إلا بتغير بعض أوصافه فيقيد مفهوم حديث القلتين بحديث التغير المجمع على قبوله والعمل به كما قيد منطوقه بذلك
“Kandungan utama hadits qullatain adalah air yang telah mencapai kadar sebanyak dua qullah, tidaklah membawa/mengandung najis, dikarenakan umumnya kadar air yang demikian tidaklah dipengaruhi oleh najis. (Namun), apabila ternyata sebagian karakter air berubah, maka statusnya menjadi najis berdasarkan ijma’ ulama yang ditetapkan dari beberapa periwayatan” Beliau melanjutkan: “Adapun air yang jumlahnya di bawah dua qullah, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memastikan bahwa air dengan kadar tersebut mengandung najis. Bahkan konteks hadits menunjukkan bahwa air dengan kadar di bawah dua qullah, terkadang membawa najis dan juga terkadang tidak membawa najis. Apabila air tersebut mengandung najis, maka statusnya tidaklah berubah menjadi najis kecuali salah satu karakternya berubah. Sehingga, konteks hadits qullatain ditaqyid (dikaitkan) dengan hadits yang telah disepakati untuk diterima dan diamalkan, yang menyatakan bahwa air yang bercampur dengan najis, statusnya menjadi najis apabila terjadi perubahan pada salah satu karakternya.”[12]
Imam Az Zuhri rahimahullah mengatakan,
لاَ بَأْسَ بِالْمَاءِ مَا لَمْ يُغَيِّرْهُ طَعْمٌ أَوْ رِيحٌ أَوْ لَوْنٌ
“Tidak mengapa (bersuci) dengan air (yang tercampur najis) selama tidak merubah rasa, bau, dan warnanya.”[13]
bersambung-
[1] HR. Bukhari: 744 dan Muslim: 598.
[2] HR. Malik: 46.
[3] HR. Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid al Musnad 1/76. Lihat Al Irwa: 13 dan Tamam al Minnah hal. 46.
[4] HR. Bukhari: 1253 dan Muslim: 939.
[5] Shahih. Nasa’i: 240, Majah: 378.
[6] Al Muhalla 1/199; Asy Syamilah.
[7] HR. Bukhari: 197.
[8] HR. Bukhari: 150.
[9] HR. Abu Dawud: 67. Diabsahkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud: 60.
[10] Qullah adalah jarar (tempayan). Asy Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq –sebagaimana disebutkan dalam Sunan Tirmidzi- berpendapat bahwa satu qullah sama dengan lima qirabah (geriba/tempayan tempat air). Maksud sabda nabi dengan dua qullah di atas adalah untuk menunjukkan air yang banyak bukan untuk membatasi. Silahkan simak penjelasan imam Asy Syaukani selanjutnya. Wallahu a’lam.
[11] HR. Abu Dawud: 63. Diabsahkan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud: 56.
[12] Sail al Jarar 1/55.
[13] HR. Bukhari 1/93 secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) namun disampaikan dengan sighat jazm. Namun, atsar ini telah diriwayatkan secara maushul Ibn Wahab dalam kitab Al-Jami’ dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani rhm dalam Mukhtashar al Bukhari, bab Maa Yaqa’u min an Najaasaat fi as Samin wa al Ma-i, hadits nomor 59.
No related posts.












