Permasalahan keempat, bersajak dan melagukan bacaan do’a qunut
Nabi shallallahu álaihi wa sallam telah mengingkari para sahabat beliau ketika meninggikan suara dalam berdoá sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Musa radhiallahu ánhu, dia mengatakan,
كنا مع رسول الله _صلى الله عليه وسلم_ فكنا إذا علونا على شرف كبرنا فارتفعت أصواتنا، فقال: “يا أيها الناس أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصمّ ولا غائباً إنما تدعون سميعاً قريباً إن الذي تدعون أقرب إلى أحدكم من عنق راحلته
”(Ketika bersafar) apabila menemui jalan menanjak, kami bertakbir dan suara kamipun meninggi. Maka nabi shallallahu álaihi wa sallam berkata, “Para sahabatku, kasihani diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidak menyeru zat yang tuli lagi jauh, namun kalian berdoá kepada Zat yang Mahamendengar dan dekat. Sesungguhnya Zat yang kalian seru itu lebih dekat kepada kalian daripada leher hewan tunggangan kalian”
Ibnu Juraij rahimahullah mengatakan,
يكره رفع الصوت والنداء والصياح بالدعاء، ويؤمر بالتضرع والاستكانة
“Dimakruhkan meninggikan suara dan berteriak ketika berdoá, (karena) yang diperintahkan adalah berdoá dengan penuh ketundukan dan ketenangan”[Tafsir ath-thabari 10/249]. Hal yang serupa dapat dilihat dalam al-Fatawa 15/19 karya Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dan al-Majmu’ 8/136 karya an-Nawawi.
Dalam Ruuh al-Maáni 8-139, al-Aluusi mengatakan,
وترى كثيراً من أهل زمانك يعتمدون الصراخ في الدعاء خصوصاً في الجوامع حتى يعظم اللغط ويشتد وتستك المسامع وتشتد ولا يدرون أنهم جمعوا بين بدعتين، رفع الصوت في الدعاء وكون ذلك في المسجد
“Anda dapat melihat mayoritas manusia di zaman ini berdoá dengan suara keras terlebih hal itu dilakukan di masjid-masjid ‘Jami’, sampai-sampai menimbulkan kebingungan dan kebisingan. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya mereka tengah mengerjakan dua kebid’ahan, yaitu meninggikan suara dalam berdo’a dan melakukan hal tersebut di dalam masjid.”
Adapun bersajak dalam do’a, maka para salaf membenci dan telah melarangnya. Larangan ini diberlakukan terhadap sajak yang berlebihan. Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepada maulanya, yaitu Ikrimah sebagaimana tercantum dalam Shahih Bukhari,
انظر السجع من الدعاء فاجتنبه، فإني عهدت رسول الله _صلى الله عليه وسلم_ وأصحابه لا يفعلون إلا ذلك الاجتناب
“Cermatilah do’a yang dilagu-lagukan (layaknya sajak) kemudian jauhilah. Sungguh saya telah hidup bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mereka tidak pernah melakukan hal itu, justru mereka menjauhinya.”
Terkadang berlebih-lebihan dalam melagukan do’a merupakan salah satu faktor terhalangnya do’a sebagaimana yang dikatakan oleh al-Qurthubi dalam al-jami’ 7/226 ketika beliau membicarakan berbagai tindakan yang melampaui batas dalam berdo’a . Beliau mengatakan,
وَمِنْهَا أَنْ يَدْعُوَ بِمَا لَيْسَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، فَيَتَخَيَّرُ أَلْفَاظًا مُفَقَّرَةً وَكَلِمَاتٍ مُسَجَّعَةً قَدْ وَجَدَهَا فِي كَرَارِيسَ لَا أَصْلَ لَهَا وَلَا مُعَوِّلَ عَلَيْهَا، فَيَجْعَلُهَا شِعَارَهُ وَيَتْرُكُ مَا دَعَا بِهِ رَسُولُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ. وَكُلُّ هَذَا يَمْنَعُ مِنِ اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ
“Diantara tindakan melampaui batas dalam berdo’a adalah seorang berdo’a dengan do’a yang tidak terdapat dalam al-Quran dan hadits, dia memilih lafadz-lafadz yang tidak bermakna, kalimat-kalimat yang bersajak, yang ditemukan pada lembaran-lembaran yang tidak diketahui asalnya dan tidak dapat dipercaya. Orang ini pun menjadikan do’a-do’a tersebut sebagai syi’ar (rutinitas) dan meninggalkan do’a yang dipanjatkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua hal ini justru menghalangi dari terkabulkannya do’a.”
Al Hafizh dalam Fath al-Bari 8/148 mengatakan,
الاعتداء في الدعاء يقع بزيادة الرفع فوق الحاجة أو بطلب ما يستحيل حصوله شرعاً أو بطلب معصية أو يدعو بما لم يؤثر خصوصاً ما وردت كراهته كالسجع المتكلف وترك المأمور
“Melampaui batas dalam berdo’a terjadi dengan meninggikan suara di luar batas kewajaran atau meminta sesuatu yang mustahil terpenuhi secara syari’at atau meminta sesuatu yang terlarang atau berdo’a dengan sesuatu yang tidak dituntunkan, terlebih berdo’a dengan cara yang dibenci seperti dengan bersajak yang berlebih-lebihan dan meninggalkan apa yang diperintahkan.”
Kemudian, berlebih-lebihan dalam melagukan do’a terkadang menyebabkan seorang mereka-reka do’a yang dipanjatkannya. Dengan demikian, hal itu justru membuat dirinya menyelisihi tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa berdo’a dengan do’a yang ringkas lagi padat makna. Wallahu a’lam.
Permasalahan kelima, menyebutkan individu/kelompok tertentu dalam doá qunut
Pada dasarnya dalam mengerjakan qunut, imam berdoá dengan doá-doá yang disyariátkan, bersifat umum dan dalam bentuk jamak. Adapun menyebutkan individu tertentu dalam doá qunut maka memiliki beebrapa kondisi sebagai berikut:
Kondisi pertama, menyebutkan kelompok kafir tertentu di dalam doá dikarenakan kebencian dan permusuhan mereka yang keras terhadap Islam.
Hal ini disyariátkan sebagaimana terdapat dalam hadits nabi shallallahu álaihi wa sallam, beliau mengatakan,
اللهم اشدد وطأتك على مضر واجعلها عليهم سنين كسني يوسف
“Ya Allah, pedihkanlah azab-Mu pada bani Mudhar, ya Allah, jadikanlah azab-Mu menimpa mereka selama beberapa tahun sebagaimana tahun pacekliknya Nabi Yusuf”.
Juga berdasarkan riwayat dari Umar radhiallahu ánhu, ketika berqunut beliau mengucapkan,
اللهم العن كفرة أهل الكتاب الذين يكذبون رسلك ويقاتلون أولياءك، اللهم خالف بين كلمتهم وزلزل أقدامهم، وأنزل بهم بأسك الذي لا ترده عن القوم المجرمين
“Ya Allah, laknatlah kaum kafir Ahli Kitab yang telah mendustakan para rasul-Mu dan memerangi para wali-Mu. Ya Allah, hancurkanlah upaya persatuan mereka, dan timpakanlah atas mereka bencana yang Engkau tidak akan mencabutnya lagi dari kaum pendosa itu“ [HR. Abdurrazaaq dalam al-Mushannaf: 4969].
Kondisi kedua, menyebutkan individu tertentu disertai penyebutan nama.
Hal ini diperbolehkan ketika memang dibutuhkan. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur yang berbeda dengan pendapat Abu Hanifah, karena bertopang dengan hadits Abu Hurairah radhiallahu ánhu, beliau mengatakan,
أن النبي _صلى الله عليه وسلم_ قنت بعد الركعة في صلاته شهراً: “اللهم أنج الوليد بن الوليد، اللهم أنج سلمة بن هشام، اللهم أنج عياش بن أبي ربيعة، اللهم أنج المستضعفين من المؤمنين، اللهم اشدد وطأتك على مضر، اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف
Bahwasanya nabi shallallahu álaihi wa sallam melaksanakan qunut pada rakaát terakhir dalam shalatnya selama sebulan dengan mengucapkan doá, “Ya Allah selamatkanlah al-Walid bin al-Walid, Salamah bin Hisyam, ’Ayyash bin Abi Rabiáh. Ya Allah, selamatkanlah kaum mukminin yang tertindas. Ya Allah, berikanlah adzab kepada Bani Mudhar dan jadikanlah azab-Mu menimpa mereka selama beberapa tahun sebagaimana tahun pacekliknya Nabi Yusuf.”[Muttafaq álaihi].
Dari Abu Hurairah radhiallahu ánhu, beliau mengatakan,
إن النبي _صلى الله عليه وسلم_ كان إذا أراد أن يدعو على أحد، أو يدعو لأحد قنت بعد الركوع…
“Bahwasanya apabila nabi shallallahu álaihi wa sallam ingin mendoákan kebaikan atau keburukan bagi seseorang, maka beliau melaksanakan qunut setelah ruku’…”[HR. Bukhari].
Ibnu Abi Syaibah mencantumkan sebuah bab dalam mushannafnya dengan judul, “Bab Penyebutan Nama dalam Doá Qunut.“
Dalam Tharh at-Tatsrib, ketika al-Iraqi membicarakan berbagai faedah hadits Abu Hurairah radhiallahu ánhu, beliau mengatakan,
( الخامسة): فيه حجة على أبي حنيفة في منعه أن يدعى لمعين أو على معين في الصلاة، وخالفه الجمهور فجوَّزوا ذلك لهذا الحديث وغيره من الأحاديث الصحيحة
“Faedah kelima, di dalam hadits ini terdapat hujjah yang menolak pendapat Abu Hanifah yang berpendapat terlarangnya mendoákan kebaikan atau keburukan bagi individu tertentu di dalam shalat. Jumhur telah menyelisihi pendapat beliau, karena mereka membolehkan hal tersebut berdasarkan hadits Abu Hurairah dan hadits-hadits shahih lainnya.”
Kondisi ketiga, imam mengkhususkan doá bagi jamaáh yang ikut shalat bersamanya. Contohnya seperti, اللهم اغفر للحاضرين”, “Ya Allah ampunilah jamaáh shalat yang hadir disini””atau ucapan yang semisal. Hal seperti ini tidak mengapa dilakukan, namun yang lebih utama tetap berdoá dengan redaksi doá yang umum seperti, اللهم اغفر لنا وارحمنا , “Ya Allah, ampunilah dan sayangilah kami” dan meniatkan doá tersebut bagi seluruh kaum muslimin.
Akan tetapi, yang patut diperhatikan bahwasanya penyebutan nama atau kelompok tertentu dalam doá qunut disyariátkan ketika terdapat sebab yang memang mengharuskannya sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits sebelumnya, bukan dijadikan rutinitas yang sering dilakukan [Lihat Majmu’al-Fatawa 23/109].
—bersambung insya Allah—
sumber: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=138231
Related posts:












